Ditulis dalam LINKDAHSYAAAT!!! | 1 Komentar »
SOUVENIR NIKAH BUKU SAKU NAMA-NAMA INDAH UNTUK BUAH HATI
Sebuah souvenir cantik, unik, dan bermanfaat. Mungkin satu-satunya dan yang pertama kali di dunia, hehe… Yup, buku saku souvenir pernikahan berisi Kumpulan nama-nama indah dan islami beserta artinya sebagai inspirasi Anda dalam memberikan nama untuk buah hati Anda yang akan/baru lahir.
Tersedia 2 ukuran buku:
Ukuran 7 x 10 cm: @ Rp 3000,-
Ukuran 10 x 14 cm: @ Rp 4000,-
(Minimal 500 buku) , free bea kirim utk Jawa, free plastik.
Info dan Pemesanan: 0818258753, 081567840504, 085292111852
Koleksi Lengkap: www.undangannikahku.wordpress.com
Ditulis dalam SOUVENIR NIKAH BUKU SAKU NAMA-NAMA INDAH UNTUK BUAH HATI | Bertanda NAMA-NAMA INDAH UNTUK BUAH HATI, SOUVENIR NIKAH BUKU SAKU NAMA-NAMA INDAH UNTUK BUAH HATI | 1 Komentar »
Kopi Sutra Ungu (145 Coffee)
Harga: 140.000,-
Isi: 5 sachet @ 25 gr
Dinkes: 212320207429
POM.Halal: 0112103707010
Pemesanan: 0818 258 753
Kopi Sutra Ungu adalah produk yang sangat baik bagi Anda yang mendambakan suatu hubungan yang harmonis dan bahagia.
Sutra Ungu adalah racikan beberapa herbal alami yang dapat menambah energi pria atau pun wanita yang reaksinya dapat bertahan hingga 3-5 hari, sehingga hubungan suami istri pun menjadi lebih berkualitas.
Ditulis dalam Kopi Sutra Ungu | Bertanda Kopi Sutra Ungu | Tinggalkan sebuah Komentar »
KAPSUL HERBAL SUTRA UNGU
Isi: 60 kapsul, Harga: Rp. 55.000,-
PEMESANAN: 0818 258 753
Sutra Ungu adalah ramuan murni herba pilihan yang dipersembahkan bagi wanita untuk memperindah hubungan suami isteri sedekat malam pertama.
Kegunaan Sutra Ungu :
1. Menghilangkan keputihan dan mengatasi vrigiditas
2. Mengencangkan kembali otot kewanitaan
3. Menghilangkan bau tidak sedap pada organ kewanitaan
4. Membantu menumbuhkan gairah seksual pada wanita
Di era zaman modern seperti sekarang ini banyak sekali nama penyakit-penyakit aneh yang muncul kepermukaan, tak pelak lagi hal ini dapat disebabkan dari konsumsi makanan yang tak terkontrol dari jumlah maupun efek buruk dari makanan tersebut. Sebagai contoh fast food, makanan tersebut adalah makanan cepat saji yang syarat dengan pengawet (formalin, borax dll) dan tak dapat dipungkiri hal ini adalah salah satu pemicu terlahirnya penyakit-penyakit aneh sebagaimana penyataan diatas
Penyakit-penyakit yang mengerikan dan mematikan tersebut dapat kita ambil contoh seperti kanker, jantung koroner, asam urat, hipertensi, diabetes dll.
Melihat hal diatas mengenai dampak penyakit yang semakin besar dan tak mudah untuk menemukan solusi pencegahan dan pengobatannya, maka kami disini ingin memperkenalkan produk kami “Curcuma Zedoaria” (Temu Putih) sebagai solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut yang mana tujuan kami dengan adanya produk ini penyakit-penyakit seperti kanker, jantung koroner dll Insya Alloh dapat dicegah dan diobati dengan segera.
Komposisi:
Curcuma Zedoaria
Curcuma Heineana
Punica Granatum L
Areca Catechu
Gallae
Chavica aurculata Miq
Ditulis dalam KAPSUL HERBAL SUTRA UNGU | Bertanda KAPSUL HERBAL SUTRA UNGU | Tinggalkan sebuah Komentar »
Buku Souvenir Pernikahan Ukhti Yani & Akh. Bambang
Souvenir pernikahan berupa buku saku yg cantik, unik, berkesan dan berpahala tentunya…Berisi materi doa Hisnul Muslim karya Syaikh Said bin Wahf al-Qohthoni.
Spesial, soalnya ada tercantum nama mempelai pengantin, baik di cover maupun di setiap halaman buku.
Harga 3000/buku. Minimal order: 500 buah. Free ongkos kirim utk wilayah Jawa. Bonus plastik.
Pemesanan: 0818258753, 081567840504
Info Lengkap: www.undangannikahku.wordpress.com
Ditulis dalam Souvenir Buku Saku Hisnul Muslim | Bertanda hisnul muslim, souvenir buku saku, Souvenir Buku Saku Hisnul Muslim, souvenir hisnul muslim, souvenir nikah, souvenir pernikahan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Mungkin banyak kalangan akan bertanya, “Bukankah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam menikahi lebih dari empat istri, sebagai keistimewaan bagi beliau. Apakah hal yang berupa keistimewaan itu bisa diteladani, mengingat selain Nabi, setiap muslim hanya diperbolehkan menikahi paling banyak empat isteri?”
Atau para orientalis dan musuh Islam akan menuduh, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam itu menikah hanya untuk memuaskan nafsu syahwat, dan Beliau menikahi dari janda-janda tua, hingga anak di bawah umur seperti Aisyah.”
Pertanyaan itu wajar. Dan Tuduhan musuh Islam tak mustahil dilancarkan untuk mendiskreditkan Rasulullah yang mulia. Bagaimana umat Islam menyikapinya?
Melalui buku ini, penulis menjelaskan bagaimana potret sejarah pernikahan yang pernah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam lakukan. Penulis menyingkap berbagai hal seputar potret dan gambaran kehidupan rumah tangga Rasulullah, terutama yang terkait dengan hikmah, rahasia dan latar belakang dari pernikahan Beliau.
Selain itu, penulis juga menjelaskan riwayat singkat sosok Ummahatul Mukminin. Berbagai keteladan para istri-istri Beliau dilukiskan dalam balutan pemaparan yang sarat hikmah dan penuh pelajaran. Dengan demikian kita akan lebih tahu, bagaimana sosok para wanita yang dinikahi nabi tersebut dan mampu meneladaninya.
Selamat Menyimak!
Penulis: Ustadz Abu Umar Basyir
Harga: Rp. 22.000,-
Promo hingga Februari 2011 harga cuma: Rp. 15.000,-
Pemesanan: 0818 258 753, 0857 3030 2552
Ditulis dalam Potret Pernikahan Nabi | Bertanda abu umar basyir, Potret Pernikahan Nabi | Tinggalkan sebuah Komentar »
Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.
Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan ini.
Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya. Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka, membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.
Namun sayang, rutinitas yang telah mereka “hafal” ini tidak sedikit darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu bernilai ibadah, masih saja ada “kotoran-kotoran” yang merusak ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan.
Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan itu:
1- Mengilmui ibadah di bulan Ramadhan.
Ilmu adalah pintu kebaikan. Siapa pun yang menghendaki kebaikan, dia harus memulai dengan ilmu. Maka seorang muslim yang ingin meraih kebaikan bulan Ramadhan, pastilah dia harus mengilmui ibadah yang dilakukan di bulan ini. Mengilmui tentang puasa, tentang tata cara shalat Tarawih, tentang membaca Al-Quran, i’tikaf, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.
Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini. Padahal, jika mereka melakukan ibadah tanpa ilmu, bisa jadi ibadah yang mereka lakukan akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah l. Akhirnya, kita pun banyak melihat bermunculan berbagai perkara ibadah yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya n di bulan mulia ini. Sehingga apa yang mereka harapkan menjadi kebaikan, berbalik menjadi kerugian semata. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.
2- Niat ikhlas dalam puasa.
Puasa adalah ibadah yang sangat agung di bulan suci ini. Sampai-sampai Allah pun mengkhususkan ibadah ini hanya untuk-Nya. Rasulullah bersabda,
قَالَ اللهُ عز وجل كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام ، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ
“Allah k berfirman, semua amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, selain harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah n. Sehingga jika kita ingin puasa kita diterima, pertama kita harus mengikhlaskan puasa kita hanya karena Allah, bukan karena ikut-ikutan rutinitas manusia atau karena niat yang lain. Selain itu, puasa kita harus sesuai dengan tuntunan atau tata cara puasa Rasulullah. Dan ini, tentu menuntut kita untuk memperhatikan poin pertama yang kami sampaikan di atas, yaitu ilmu.
Sekadar mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan niat adalah kehendak dalam hati untuk melakukan sesuatu amalan. Sehingga dalam tuntunan Rasulullah, niat untuk ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan, termasuk di antaranya niat untuk berpuasa.
3- Yang wajib lebih utama dari yang sunah.
Semangat yang menggebu terkadang menjadikan seseorang lalai dengan skala prioritas yang harusnya diperhatikan. Inilah yang sering kita saksikan pada bulan ini. Kaum muslimin terkadang lebih memerhatikan yang sunah dengan melalaikan yang wajib. Padahal seharusnya yang wajib harus lebih diperhatikan dari yang sunah, sedangkan yang sunah diusahakan tidak ditinggalkan.
Sebagai contoh, kita lihat kaum muslimin berbondong-bondong shalat Tarawih berjamaah ke masjid sampai membuat masjid tak muat, padahal shalat Tarawih tidak termasuk dalam shalat wajib. Namun sayang, mereka lupa atau lalai shalat berjamaah di masjid untuk lima shalat waktu yang notabene adalah shalat wajib.
Akan lebih parah lagi, jika ada seorang muslim yang lebih memerhatikan hal yang mubah-mubah saja dari pada hal yang wajib. Atau bahkan lebih parah dari itu, memerhatikan hal yang makruh atau haram dengan melalaikan yang wajib. Na’udzu billah min dzalik.
4- Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.
Yang ini, nampaknya banyak dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Di antara mereka ada yang makan sahur jauh sebelum waktu sahar (akhir waktu malam menjelang terbit fajar). Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak makan sahur. Lalu ketika berbuka pun di antara mereka ada yang mengakhirkannya sampai menjelang Isya. Semacam ini tentu saja bertentangan dengan tuntunan Nabi n.
Rasulullah bersabda, “Makan sahurlah, karena ada berkah dalam makan sahur.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan disebutkan pula dalam hadits Muttafaq ‘alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) bahwa antara makan sahur Rasulullah dengan adzan shubuh berselang sekitar bacaan 50 ayat al-Quran.
Rasulullah juga bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab adalah makan sahur.” (Riwayat Muslim)
Adapun tentang menyegerakan berbuka, Rasulullah bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan yang dimaksud menyegerakan berbuka di sini, segera berbuka setelah terbenam matahari. Karena jika seseorang menyengaja berbuka sebelum terbenam matahari padahal dia tahu, maka puasanya tidak sah alias batal.
5- Mulianya waktu.
Keagungan waktu dan urgensi memerhatikannya, sudah tidak kita ragukan lagi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “waktu bagaikan pedang, jika tidak kau patahkan dia yang akan menebasmu.” Maksudnya, jika waktu ini tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, niscaya dia bisa menjadi bumerang yang mencelakakan kita.
Nah, di bulan mulia ini, kemuliaan waktu menjadi jauh lebih mulia dari biasanya. Namun sekali lagi sayang, banyak kaum muslimin yang lalai akan hal ini. Mereka menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk perkara kesenangan jiwa belaka. Dengan bercanda ria, berjalan-jalan, tidur, ngobrol, begadang, dan seterusnya. Padahal jika mereka mau memanfaatkannya untuk ibadah seperti membaca Al-Quran, berdzikir atau yang lain, maka sesungguhnya di bulan ini amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya.
6- Ramadhan bulan doa.
Di antara rahasia yang sering dilalaikan, bahwa Ramadhan adalah bulan doa. Dalam surat al-Baqarah ayat 186, Allah menyebutkan sebuah keterangan tentang doa. Bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya, dan Dia mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Jika diperhatikan, ayat ini Allah sampaikan di tengah-tengah ayat tentang puasa. Hal ini menunjukkan –sebagaimana dijelaskan para ulama – bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berdoa.
Terlebih lagi Rasulullah telah bersabda, “Tiga doa yang tidak akan ditolak; doa seorang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, doa orang yang bersafar.” (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3032)
7- Antara hemat dan sedekah.
Di antara keistimewaan amalan Nabi n di bulan Ramadhan, beliau n lebih banyak bersedekah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Padahal beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan-bulan yang lain. Nah, tentunya ini menjadi dorongan bagi kita sebagai umat beliau n, untuk lebih banyak bersedekah di bulan Ramadhan.
Anjuran untuk bersedekah ini tentu menuntut kita untuk lebih berhemat dalam menggunakan harta untuk keperluan duniawi. Inilah hal yang mungkin banyak dilalaikan. Yang sering terjadi malah sebaliknya, pengeluaran untuk urusan duniawi; untuk membeli makanan sahur dan buka, dan juga untuk membeli perlengkapan menyambut lebaran, lebih diperhatikan dari pada pengeluaran untuk sedekah.
8- Keagungan malam-malam terakhir.
Ada fenomena yang perlu dikoreksi. di awal-awal Ramadhan mereka bersemangat melaksanakan ibadah seperti shalat Tarawih, membaca Al-Quran dan sebagainya. Namun semakin mendekati akhir Ramadhan, mereka mulai “lemas” dalam ibadah. Masjid-masjid yang tadinya penuh dengan jamaah, kini tinggal dua atau tiga shaf saja. Padahal Allah lebih mengagungkan malam-malam terakhir Ramadhan dibandingkan sebelumnya. Dan Rasulullah n pun bertambah giat dalam beribadah jika telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
9- I’tikaf.
Di antara sunnah (ajaran) Nabi n yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin adalah i’tikaf. Berdiam di masjid dan tidak keluar darinya, dalam rangka mengkhususkan diri untuk ibadah kepada Allah l. Ibadah ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Nabi n pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah yang mulia ini sering tidak bisa dilakukan oleh kaum muslimin, karena mereka sibuk dengan persiapan menyambut hari raya. Seolah-olah, mereka sangat gembira dengan hampir selesainya bulan Ramadhan. Padahal para pendahulu kita yang shalih, merasa sedih ketika harus berpisah dengan bulan mulia ini. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan mereka?
10- Jangan lupakan tujuan puasa.
Kita semua tentu tahu tujuan agung ibadah puasa. Namun, apakah kita sadar ketika Ramadhan telah berlalu, sudahkan kita mencapai tujuan itu? Ketakwaan, sebagai tujuan dari ibadah puasa, tidak hanya dituntut pada bulan Ramadhan saja. Bahkan ketakwaan harus senantiasa diusahakan mengiringi kita di mana pun dan kapan pun. Rasulullah n bersabda, “Bertakwalah kamu di mana atau kapan pun kamu berada.” (Riwayat at-Tirmidzi)
Semoga, Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita orang yang bertakwa di mana pun dan kapan pun kita berada, sampai Allah mewafatkan kita. Wallahul muwaffiq. (abu hafshoh)
Source: Majalah Sakinah
Ditulis dalam Majalah Sakinah, Nasihat | Bertanda majalah, majalah keluarga, majalah nikah, Majalah Sakinah, nikah, sakinah | 1 Komentar »
Ketika seorang wanita ingin punya baju bagus, perhiasan indah, tampilan menarik, sungguh sebuah kewajaran. Secara fithrah, wanita memang senantiasa bertipe demikian. Wanita dengan tabiatnya sebagai pendamping pria, memang selalu suka berhias, berdandan dan mempercantik diri. Kesukaannya terhadap benda-benda duniawi juga cenderung lebih besar ketimbang kaum pria. Maka sungguh tidak bijak bila “fithrah” itu dihambat sedemikian rupa, atau bahkan dihentikan secara sepihak. Islam adalah agama fithrah, yang sudah pasti akan memiliki tatanan ajaran yang selaras dengan kebutuhan fihtrah.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).” (Ali Imran : 14)
Antara Memanjakan Diri dan Mematikan Hati
Namun apa yang dikehendaki fithrah tidaklah sama dengan apa yang dimaui oleh hawa nafsu? Hal-hal yang berlebihan selalu saja berlawanan dengan fithrah itu sendiri. Sebagian istri tenggelam dalam khayalan. Mereka terlampau berlebih-lebihan dalam menuntut kesempurnaan. Dalam benaknya, pernikahan laksana surga Firdaus. Di dalamnya tak ada kepenatan, beban, ataupun kesusahan. Ia menginginkan pernikahan sesuai dengan gambaran dan fantasinya, tanpa bisa menoleransi adanya sedikit pun kesulitan.
Akhirnya, ketika sang istri berhadapan dengan kenyataan yang sarat tanggung jawab, saat ia dituntut untuk mengambil keputusan, melahirkan anak dan menghadapi berbagai macam kesulitan hidup, banyak di antara mereka yang tak sanggup menghadapinya. Tak jarang yang akhirnya berpikir bahwa ia telah keliru memilih pendamping hidup.
Betapa apa yang dialaminya, jauh di luar apa yang selama ini dibayangkannya. Di satu sisi, ia sadar bahwa ia adalah istri yang harus melayani suami. Tapi di sisi lain, nafsu dan syahwatnya berkubang ambisi dan fantasi yang entah kapan bisa terpuaskan. Kondisi itu pada sebagian wanita bisa memuncak menjadi depresi dan tekanan hidup yang hebat. Bahkan ia tak segan memohon cerai, hanya agar terlepas dari ikatan-ikatan yang terasa amat membelenggunya.
Salah satu faktor dominan yang menyebabkan terjadinya persepsi semacam itu, adalah kecenderungan sebagian masyarakat memetik inspirasi dari kisah-kisah roman picisan, novel-novel terjemahan, sinetron televisi atau berbagai tayangan film layar lebar.
Kisah, sinetron maupun film tersebut seringkali menggambarkan kehidupan pernikahan yang serba nyaman dan tak pernah dihinggapi masalah. Gaya hidup glamour sering digambarkan sebagai model-model kesuksesan yang patut diteladani.
Belum lagi tingkah polah selebritis yang saling berlomba mengambil simpati dengan tampilah wahnya. Ketika istri mengendarai bahtera pernikahan, pengalaman yang ia hadapi jauh bertentangan dengan berbagai gambaran itu. Dirinya dikagetkan dengan kenyataan-kenyataan yang sebelumnya tak pernah terlintas di benaknya.
Seorang istri yang bijaksana hendaknya bersikap adil dalam memandang, tidak larut dalam mimpi atau membiarkan jiwanya menerawang ke lembah khayalan dan fantasi buta. Tak usah berlebihan dalam menuntut kesempurnaan. Kehidupan rumah tangga bukanlah sebuah gambaran sesaat. Bukan pula cerita khayalan yang direkayasa.
Ia sesungguhnya realitas yang berbaur penderitaan, angan-angan, kesenangan dan kesedihan, layaknya semua kenyataan hidup lainnya. Semua ini dapat diatasi jika bahtera kehidupan dijalani dengan memperbaiki pola beradaptasi dengannya. Seni menikmati realitas harus dipelajari setahap demi setahap. Belajar menahan derita dan kesusahan adalah seni agar hati tak mudah mati.
Bila Hasrat Belum Jadi Terwujud…
Nah, jika Anda seorang istri yang gagal mendapatkan sebagian fantasi Anda sebelum menikah, haruskan Anda mengatakan, ‘Yang namanya susah, tetap saja susah.’ Lalu Anda membiarkan diri Anda tenggelam dalam kesusahan itu? Tentu tidak demikian! Anda harus belajar untuk menahan diri, menguatkan jiwa dan rohani untuk menghadapinya.
Kekuatan memikul tanggung jawab, beban dan berbagai kesulitan merupakan faktor terbesar bagi terciptanya kebahagiaan pernikahan. Orang yang paling bahagia adalah orang yang paling mampu bersusah payah. Meski dalam realitasnya, belum tentu ia akan mengalami segala kepayahan itu. Artinya, saat Anda siap disuntik untuk berobat, Anda akan menjadi pasien yang berbahagia. Meski ternyata Anda tak harus mengalaminya.
Ukhti muslimah, saat saudari mampu menjadi istri yang tak banyak menuntut –bukan tak punya keinginan dan permintaan sama sekali–, saudari telah membuka pintu kebahagiaan untuk kehidupan rumah tangga kalian berdua.
Bagi suami, tak ada yang lebih indah dari ungkapan seorang istri, ‘Tak apa mas, namanya belum rezeki. Sabar, aku juga tak terlalu butuh kok. Yang ada ini saja sudah jauh dari mencukupi.’
Wah, sungguh itu adalah kata-kata mujarab, untuk mengobati segala kepenatan jiwa, menghilangkan pikiran yang suntuk, bahkan membangun motivasi untuk lebih giat lagi bekerja dan berusaha.
Beratkah untuk melakukannya? Tidak juga. Sebenarnya, yang dibutuhkan cuma “sesekali” sadar aja. Saat saudari berkeinginan kuat memiliki sesuatu, dan saudari melihat suami sedang berkemampuan, sampaikan saja terus terang.
Kalau suami punya beberapa kebutuhan yang sangat mendesak, tahan dulu keinginan itu. Saat sudah lapang, tak apa minta lagi. Bila dibelikan, ucapkanlah terima kasih. Meski ia adalah suami saudari dan memang sudah kewajibannya memberikan apa yang menjadi kebutuhan saudari, terima kasih itu perlu dan sangat berpengaruh menciptakan kebahagiaan di hari saudari. Jangan lupa tersenyum dan memperlihatkan wajah gembira. Tak cukup hanya senang sendiri dalam hati. Karena berbagi itu perlu, apalagi berbagi kebahagiaan.
Sepanjang permintaan itu masih dalam batas kewajaran dan suami saudari mampu, boleh saja saudari meminta. Asal jangan terus-terusan meminta. Biarpun suami mampu, dan permintaan itu sederhana, “sesekali” menahan diri itu perlu.
Kalau “sesekali” itu bisa saudari lakukan lebih banyak, akan lebih baik lagi. semakin banyak, semakin baik pula. Syukur-syukur, suami saudari memiliki pengertian mendalam, sehingga tanpa minta pun saudari sering dibelikan apa yang saudari suka. Itu akan lebih baik, karena nilai ketulusannya lebih banyak.
Dan yang terpenting, hal itu akan lebih mengurangi beban pikiran suami, yang bisa jadi tak saudari ketahui secara pasti. Terkadang, bisa jadi suami saudari menahan diri untuk tidak memberitahukan kebutuhannya, demi kebahagiaan saudari.
Menahan diri sesekali itu, jelas banyak hikmahnya, apalagi bila terjadi berkali-kali. Cara itupun memiliki seni tersendiri, yang kalau saudari kuasai penuh, niscaya akan menjadi sumber kepuasan tersendiri. Puasa mengajarkan kita untuk itu. Bayangkan, makan dan minum yang sudah jadi kebiasaan sehari-hari, belum lagi hubungan seks yang menjadi “primadona” dalam kehidupan duniawi, harus “dihentikan” dalam beberapa jam!
Itulah sebabnya, puasa berpahala besar, dan Allah menjanjikan banyak hal bagi yang melakukannya demi mencari keridhaan Allah,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Setiap hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, akan Allah pisahkan jarak antara dirinya dengan Neraka sejauh tujuh puluh musim gugur (70 Tahun).” [1]
Seorang istri, hendaklah tetap bersyukur meskipun musibah menimpanya, sebagai tanda terima kasihnya kepada Allah atas takdir yang ditentukan kepadanya. Apalagi bila kenyataannya, ia juga banyak menerima kesenangan, dan kesulitan itu justru dirasakan olehnya sesekali saja. Ia harus menjaga amarah, jangan banyak mengeluh dan memerhatikan adab-adab dalam menghadapi segala wujud musibah. [2]
Seorang istri hendaknya menyadari bahwa suami adalah penyebab lahirnya keturunan. Anak adalah nikmat yang sangat agung. Seandainya laki-laki tidak memiliki kelebihan kecuali hanya nikmat ini, maka cukuplah kelebihan itu untuk disebutkan.
Ar-Raafi’i menjelaskan, “Sekalipun istri sengsara karena suaminya, sungguh suami telah membahagiakannya karena ia menjadi penyebab lahirnya keturunan. Karenanya, kelebihan ini saja sudahlah cukup menjadi kelebihan dan kenikmatan.” [3]
Rasulullah shollallohu ‘alaih wa sallam bersabda, “Saya melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari keluarga dan kebaikan-kebaikan suami. Jika sekiranya engkau berbuat baik kepadanya, lalu ia melihat sedikit kekurangan darimu, maka ia berkata: ‘Saya tidak melihat suatu kebaikan darimu sama sekali’.” [4]
Jadilah wanita yang pandai bersyukur. Jadilah Ahli Surga….
Catatan Kaki:
1 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (III : 1044), oleh Muslim (II : 808), oleh Imam At-Tirmidzi (IV : 20), Abu Dawud (III : 185), juga Ibnu Hibban dalam Shahihnya (XIII : 13) dari hadits Abu Hurairah.
2 Lihat: Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qayyim, II/199 dan 243.
3 Wahyu Al-Qalam, Ar-Rafi’i, I/292
4 HR. Al-Bukhari No. 29 dan Muslim No. 907
—
Penulis: Ustadz Abu Umar Basyir
Ditulis dalam Kolom Abu Umar Basyier | Bertanda Kunci Surga, Pandai Bersyukur, Ustadz Abu Umar Basyir | 1 Komentar »
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Ustadz yang dimuliakan Allah, saya adalah seorang istri (37 th) yang sudah 2 bulan ditinggal pergi suami (34 th). Dia berpikir apakah akan meneruskan pernikahan kami atau tidak, karena dia merasa selama berumah tangga tidak pernah menemukan kebahagiaan yang hakiki. Dia pergi tanpa pamit dengan meninggalkan sepucuk surat.
Memang setelah saya merenung, saya sadar bahwa saya sering cemburu dan marah. Tetapi menurut saya itu semua ada dasarnya. Selama ini suami saya sering tidak jujur kepada saya (masalah gaji dan masalah perempuan). Selama saya kenal dengan suami (1 tahun perkenalan dan hampir 7 tahun kami menikah), sudah 2 perempuan yang mengaku ditiduri suami saya. Yang pertama menjelang pernikahan kami, yg ke 2 kurang lebih 1 tahun belakangan ini. Memang semenjak kami menikah, kami belum dikaruniai momongan. Perempuan yang ke-2 ini bahkan mengejek saya lewat sms bahwa suami saya mau selingkuh dengan dia karena saya mandul (tidak bisa memberikan dia anak). Dia juga sering meneror saya melalui misscall di hp saya (sampai saya ganti nomor)
Setelah kejadian itu pun saya beberapa kali memergoki suami bertelpon ria dengan perempuan lain di belakang saya. Sepertinya sih orangnya lain lagi. Selama ditinggal pergi, saya lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir dan salat malam, alhamdulillah hati agak tenang. Saya juga berusaha menghubungi suami per telpon/sms tapi tidak pernah diangkat, sms pun tidak ditanggapi. Saya menasihatinya untuk salat istikharah karena ini kan keputusan besar.
Saya juga sudah di-ruqyah syar’iyah oleh seorang pe-ruqyah karena di rumah saya mengalami hal aneh (bunyi petasan di dalam dan di atas rumah, 15 ekor kalajengking kecil di dapur, padahal rumah tertutup)
Saya bingung, apa yang harus saya perbuat. Dalam buku yang pernah saya baca, saya tidak boleh menuntut cerai suami karena akan diharamkan bagi saya bau surga. Saya juga tidak mau bercerai karena takut murka Allah. Tapi hati saya sakit. Saya sering teringat suami dan saya sangat sedih. Saya juga menginginkan rumah tangga yang barakah, tenang, tenteram.
Bagaimana jika saya menanyakan keputusan suami, kalau mau kembali segeralah kembali atau jika mau bercerai, bercerailah dengan cara yang baik? Atau sebaiknya saya diam saja?
Mohon nasihat Ustadz pada saya. Sepertinya cobaan ini bertubi-tubi dan sungguh berat bagi saya. Oh iya, saya sudah tidak punya orang tua, yang ada hanya kakak-kakak saya. Mereka sudah sebal dengan suami saya. Terima kasih.
dayan ina
***@yahoo.co.id
Ustadz Abu Umar Basyir menjawab:
Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh
Alhamdulillah. Pada prinsipnya, sulit bagi kami untuk menakar persoalan yang belum kami cermati dan kami amati realitasnya secara tepat, dari berbagai sudut pandang. Terutama sekali kalau sudah berkaitan dengan persoalan suami istri. Karena, —terus terang— kami tidak mau menyudutkan satu pihak, tanpa alasan yang dibenarkan. Tapi, kita hanya diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita ketahui secara lahir. Dan kami yakin, Saudari jujur dalam penuturan.
Pertama, soal kecemburuan Saudari. Kecemburuan itu soal wajar, bahkan terkadang dibutuhkan, di satu waktu bisa diharuskan. Namun sebagai langkah dasar, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa rasa cemburu itu bisa menimbulkan bahaya besar, bila tidak diletakkan pada tempatnya.
Kecemburuan tanpa alasan yang benar, harus diwaspadai lebih ketat lagi. Karena kecemburuan tersebut mengandung prasangka yang diharamkan, mengandung kecurigaan atau bahkan tuduhan yang tidak diperbolehkan dalam Islam, kecuali dengan bukti-bukti yang jelas.
Imam Ali juga pernah memberikan nasihat, “Waspadalah terhadap kecemburuan, karena kecemburuan adalah kunci perceraian. Jangan banyak mengecam, karena kecaman itu melahirkan kebencian.2”
Namun, kalau kecemburuan itu karena alasan yang jelas, seperti realitas membahayakan dari sikap pasangan, suami misalnya, itu justru diharuskan, meski juga tetap harus ditakar, jangan dibiarkan meluap-luap tak terkendali.
Suami yang tidak menjaga perasaan istrinya, sehingga selalu meremehkan perasaannya, terlalu mudah cemburu, menganggap perasaan istri ibarat angin lalu, jelas tidak dibenarkan. Tapi seorang istri yang meluapkan kecemburuan (meski dengan alasan benar) secara membabi-buta, juga tidak dibenarkan dalam Islam.
Kedua, soal ketidakterusterangan suami, itu sikap yang tidak benar. Karena konsep pergaulilah pasanganmu dengan baik, menuntut adanya sikap berterus terang terhadap pasangan. Orang yang berpengalaman dalam hidup rumah tangga secara baik akan tahu betul, betapa artinya sebuah keterusterangan, dalam menjalani rumah tangga. Ketidakterusterangan, hanya bermuara dari dua hal saja:
Pertama, keinginan seorang suami (atau istri) untuk tidak membiarkan pasangannya bersedih, menderita atau susah, bila mengetahui realitas sesungguhnya, sehingga berupaya ditutup-tutupi. Kami harap, begitulah sosok suami Saudari.
Kedua, untuk menutup-nutupi kesalahan, perselingkuhan, kecurangan dan sejenisnya. Banyak pasangan (suami atau istri) yang menganggap pasangannya sebagai orang yang paling mudah dibodohi, dibohongi, dan ditipudaya. Betapa tidak, karena dasar dari kehidupan pasutri adalah adanya saling percaya terhadap pasangannya. Itulah kelebihan sekaligus kelemahan yang sering disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kami berharap, bukan demikian sosok suami Saudari. Karena, memang, betapa perihnya menghadapi pasangan yang pandai berselingkuh, dan pandai pula menutupinya.
Ketiga, untuk kasus suami Saudari yang kepergok ber-sms ria dengan wanita asing, memang, itu satu hal yang tidak pantas dan patut disesalkan. Tapi, jangan cepat menarik kesimpulan bahwa suami Saudari telah berselingkuh dengan wanita itu. Apa yang dilakukan suami Saudari adalah maksiat dan perbuatan dosa yang harus dihindarkan oleh setiap pasangan suami istri. Tapi harus dicatat, bahwa selingkuh adalah soal khusus yang harus dibuktikan dengan cara khusus pula. Dalam Islam, seorang suami atau istri dipastikan berzina, bila disaksikan oleh empat orang saksi yang langsung melihat proses perzinaan, yang kalau dalam hadits disebutkan seperti masuknya tongkat ke dalam lubang. Itu jelas sulit didapatkan. Tapi, begitulah Islam melindungi agar jangan sampai ada orang yang salah dituduh sebagai pezina, padahal ia belumlah berzina. Kalau seorang suami bercanda, bahkan berpacaran, bermaksiat, atau bahkan sampai berpelukan dan –maaf— berciuman dengan wanita yang bukan istrinya, itu jelas maksiat, tapi juga bukan lantas disebut berzina. Suami seperti itu layak diberikan peringatan keras, dinasihati (dengan perantaraan orang yang diseganinya, seperti orang tua atau kakak kandungnya). Karena, dari situlah akan bermula perjalanan panjang yang akhirnya bermuara pada perzinaan, yakni perselingkuhan yang sesungguhnya.
Sekadar pengakuan satu dua wanita yang katanya dihamili oleh suami Saudari, itu juga soal klasik. Artinya, bisa saja memang terjadi, tapi realitas juga membuktikan, betapa banyakya wanita yang karena saking cintanya terhadap seorang pria yang telah beristri, nekat mengatakan dirinya telah dihamili pria itu, bahkan dengan pengakuan palsu di hadapan istri pria tersebut!
Kita tidak menampik kemungkinan hal itu bisa saja terjadi, tapi jangan memutus perkara sedemikian rupa, sebelum pasti segalanya. Karena, keutuhan rumah tangga tetap menjadi tujuan utama, bila masih bisa dipertahankan untuk tegak di atas rambu-rambu Islam.
Keempat, cara yang Saudari tempuh sudah tepat, dengan melakukan ruqyah syar’iyyah. Tapi, bila mampu, lakukan saja sendiri. Karena ketergantungan terhadap ruqyah, sangat tidak dibenarkan dalam Islam, karena dapat melemahkan jiwa dan mengurangi keutamaan. Bila seseorang berkenan meruqyah tanpa Saudari minta, itu bagus. Dan lebih bagus lagi, bila Saudari sendiri yang melakukannya. Bisa dibaca buku-buku terjemahan panduan ruqyah menurut sunnah yang ada di pasaran sekarang ini, atau minta petunjuk dari seorang ustadz yang beraqidah lurus dan memiliki kredebilitas Islam yang baik.
Karena, bisa saja kondisi rumah tangga kalian sedikit terguncang, karena kedengkian pihak lain, yang mungkin berupaya menggunakan kekuatan setan, bantuan jin kafir, sihir dan sejenisnya. Perbanyaklah membaca dzikir, salat malam, dan jangan lupa memperdalam pengetahuan agama terutama di bidang tauhid. Karena itu adalah akar kekuatan sesungguhnya dari ketabahan sejati.
Kelima, lakukan beberapa langkah praktis, misalnya berdialog dengan suami. Bila terlihat suami melakukan kekeliruan, lakukan nasihat dengan baik dan santun, bila perlu dengan bantuan orang lain.
Wanita yang tidak akan mencium bau surga adalah yang meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Bila suami Saudari terbukti berselingkuh, atau melakukan pelanggaran berat dan tidak dapat dinasihati lagi, boleh saja seorang istri meminta cerai. Bahkan, suatu saat bisa menjadi kewajiban, bila tanpa bercerai seorang istri akan terjerumus dalam maksiat.
Tapi, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Cobalah mempertebal kesabaran, sambil menelaah persoalannya satu per satu, dan menyelesaikannya. Kami berharap, suami Saudari tidaklah seburuk yang tampak dalam perilaku kesehariannya. Tapi kalau memang demikian, yakinlah, wanita baik-baik akhirnya akan berjumpa dengan pria baik-baik pula. Demikian juga sebaliknya. Wallahu a’lam.
—
Penulis: Ustadz Abu Umar Basyir
Ditulis dalam Kolom Abu Umar Basyier | Bertanda Ustadz Abu Umar Basyir | Tinggalkan sebuah Komentar »
Ketika seseorang yang sudah lama menikah ditanya, sebesar apakah cintamu pada pasanganmu? Seringkali dia menjawab, “Tidak tahu.” Kadang-kadang malah ditambah, “Bahkan aku tak tahu apakah masih mencintainya atau tidak….” Padahal dulu, ketika masih pengantin baru, dia merasa sangat mencintai istri atau suaminya.
Memang, banyak orang yang saat awal menikah begitu mencintai pasangannya, namun seiring berjalannya waktu, cintanya kian surut, dan memudar. Rumah tangga jadi terasa hampa. Semuanya dilakukan hanya sebagai rutinitas, tak bermakna, dan hati pun jauh dari bahagia.
Kita tentu tak ingin, yang seperti itu terjadi dalam rumah tangga kita. Akan tetapi…jika rasa cinta kita pada pasangan benar-benar kian memudar, adakah resep mujarab yang bisa menumbuhkannya kembali? Tentu saja ada! Bukankah di antara pasangan yang sudah bercerai saja banyak yang masih bisa rujuk? Apalagi yang belum bercerai!
Resep itu bagaikan air yang disiramkan pada tanaman yang layu. Menjadikan tanaman itu tegak dan segar kembali. Resep itu begitu mudah dan sederhana. Semua orang bisa melakukannya. Hanya saja, tidak semua orang mau melakukannya. Karena, untuk melakukannya diperlukan ketulusan. Rasa ego dan gengsi yang bersemayam dalam hati pun harus dibuang. Apakah Anda siap dengan semua itu? Anda harus siap, bila ingin menyelamatkan istana cinta yang sudah Anda bangun dengan susah payah.
Menyegarkan Cinta yang Kian Pudar
Cinta itu seperti tanaman. Harus selalu disiram, dipupuk dan dirawat, agar tumbuh segar, bersemi, dan berbunga. Inilah beberapa resep yang bisa diandalkan untuk menumbuhkan kembali cinta Anda berdua.
1. Berhiaslah untuknya.
Kita semua tentu senang melihat suami atau istri yang selalu tampil menarik. Berhias, tidak selalu identik dengan make up. Tampillah di hadapan pasangan Anda dengan wajah yang ceria, rambut yang rapi, pakaian yang bersih dan sedikit parfum.
Untuk para suami, hendaknya ketika akan pulang dari bepergian memberi tahu istrinya lebih dulu, agar ia bisa bersiap-siap menyambut suaminya.
Dalam sebuah hadits, Jabir z berkisah, “Kami pernah bersama Nabi n dalam suatu peperangan. Ketika kami kembali ke Madinah, kami segera untuk masuk (ke rumah guna menemui keluarga). Maka beliau bersabda, ‘Bersabarlah sampai engkau memasuki pada waktu malam -yakni waktu isya’- agar wanita-wanita yang kusut dapat bersisir dan wanita-wanita yang ditinggal lama dapat berhias diri.’” (Muttafaq Alaihi). Menurut riwayat Bukhari: “Apabila salah seorang di antara kamu lama menghilang, janganlah ia mengetuk keluarganya pada waktu malam.”
2. Beri dia kejutan/hadiah
Sekali-kali, berikan hadiah atau kejutan pada pasangan Anda. Pilih barang yang sangat disukainya, atau memang dibutuhkannya. Dari pakaian dalam, kaos atau daster, baju koko atau jubah, atau apa saja, tergantung berapa yang Anda anggarkan. Hadiah adalah salah satu wujud perhatian Anda pada pasangan. Itu akan bisa menyenangkan hatinya, dan menyuburkan rasa cintanya pada Anda.
Bisa juga Anda membawakan oleh-oleh yang istimewa sepulang dari bepergian. Misalnya makanan atau barang yang khas dari daerah yang baru saja Anda kunjungi.
3. Ciptakan kemesraan bersamanya.
Belajarlah dari kemesraan Rasul n kepada istri-istrinya.
- Sering-seringlah mencium atau memeluknya.
Dari Aisyah x bahwa Nabi n mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudlu dahulu. (Riwayat Ahmad, dinilai lemah oleh Bukhari)
Dalam hadits lain, Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Salah seorang di antara kami apabila haid dan Nabi Muhammad n ingin memeluknya, beliau menyuruhnya untuk berkain pada saat haidnya, kemudian beliau memeluknya.” Aisyah berkata, “Siapakah di antaramu yang dapat mengendalikan syahwat nya sebagaimana Nabi Muhammad n mengendalikan syahwat beliau?” (Riwayat Bukhari)
Dari hadits di atas tentu kita tahu, sekadar peluk cium tidak mesti diakhiri dengan jima’. Semua itu dilakukan untuk menunjukkan cinta kasih beliau kepada istrinya. Seorang wanita yang diperlakukan seperti itu, akan semakin yakin kalau ia benar-benar dicintai oleh suaminya.
- Mengajak/mengundi istrinya bila bepergian.
Aisyah x berkata, Rasulullah n bila ingin bepergian, beliau mengundi antara istri-istrinya, maka siapa yang undiannya keluar, beliau keluar bersamanya. (Muttafaq Alaihi)
Mengajak istri untuk bepergian adalah sunnah. Karena dengan mengajak istri, suami akan lebih “terjaga” dalam perjalanannya. Bukankah akan ada bermacam fitnah dan godaan yang akan dia lihat selama dalam perjalanan? Dengan membawa istri, ia akan merasa lebih tenang. Istri pun akan senang, karena bepergian bersama suami bisa menjadi ajang refreshing baginya.
- Mandi bersama.
Ini juga bukan hal tabu bagi suami istri, karena bisa menambah kemesraan di antara keduanya. Rasulullah n juga pernah mandi bersama istrinya dengan satu bejana.
- Mengajak lomba.
Dalam sebuah hadits dari Aisyah dikisahkan, bahwa Rasulullah n pernah mengajak Aisyah berlomba lari. Ketika Aisyah masih kurus, istri tercinta Nabi itu memenangkannya. Saat Aisyah badannya gemuk, Nabilah yang menang. Lihatlah, betapa Nabi n bukanlah suami yang “selalu serius” terhadap istrinya. Beliau tidak hanya memberikan perintah dan larangan, tapi juga mengajaknya bersantai dan bermain-main.
- Rebahan di pangkuan istri.
Aisyah x berkata, “Nabi Muhammad n. bersandar di pangkuanku, padahal aku sedang haid, kemudian beliau membaca al-Quran.” (Riwayat Bukhari)
4. Ingat-ingat kebaikannya. Lupakan dan maafkan keburukan dan kesalahannya.
Allah l berfirman, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (istri-istri kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)
Demikian juga para istri, hendaknya bersabar bila menemui hal-hal yang kurang disukainya dari suaminya.
5. Berpikirlah positif.
Berpikirlah bahwa dialah yang terbaik bagi Anda. Jangan membandingkan dirinya dengan orang lain. Bukankah Anda sendiri tidak suka dibanding-bandingkan?
Ingatlah firman Allah l, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)
6. Ingat saat awal menikah.
Masa-masa bulan madu, saat awal menikah begitu mengesankan. Ingat-ingatlah masa itu, dan jangan biarkan berlalu tanpa bekas. Sekali tempo, ajaklah pasangan Anda napak tilas ke tempat-tempat romantis atau sekedar warteg yang pernah Anda kunjungi saat pengantin baru.
7. Jangan hanya menuntut hak, namun melalaikan kewajiban.
Hak dan kewajiban sebagai pasutri harus dilaksanakan secara seimbang. Tidak boleh masing-masing hanya menuntut haknya, sedangkan kewajibannya dilalaikan. Di antara hak suami atas istri ialah tidak menjauhi tempat tidur suami dan memperlakukannya dengan benar dan jujur, mentaati perintahnya dan tidak keluar (meninggalkan) rumah kecuali dengan izin suaminya, tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang yang tidak disukai suaminya. Di antara kewajiban suami terhadap istrinya adalah memberinya nafkah, melindunginya dan mempergaulinya dengan baik.
8. Berdoa.
Lengkapilah usaha Anda dengan doa. Mohonlah kepada Allah l, agar menurunkan sakinah, mawaddah wa rahmah dalam rumah tangga Anda. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Misalnya sepertiga malam terakhir, di waktu safar (bepergian), antara adzan dan iqomat, dan pada hari Jumat setelah asar.
Agar doa Anda segera dikabulkan, mungkin Anda perlu mengamalkan hadits berikut ini:
“Barangsiapa ingin agar doanya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi, hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan.” (Riwayat Ahmad)
Kini, kalau ditanya seberapa besar cinta Anda pada pasangan, Anda bisa menjawab, “Cintaku…seujung kuku.” Kecil sih, tapi terus tumbuh…meski sering dipotong dan dirapikan. Tentu saja, itu cuma bercanda! (Oel)
Sumber: www.majalahsakinah.com
Ditulis dalam Majalah Sakinah | Bertanda Cintaku Seujung Kuku, majalah nikah, Majalah Sakinah | 4 Komentar »













